Dewasa ini guru yang akan merayakan Hari Guru Nasional pada tanggal 25 November tidak bisa dipungkiri memang mengalami efek globalisasi. Guru yang ingin memperluas dan memperkaya cakrawala informasi lantas mendapatkan akses yang mudah di era globalisasi ini.
Guru lantas kebanjiran informasi. Memang ada keuntungannya, tetapi banjir yang deras dan sering menggenangi gedung-gedung sekolah seperti di musim penghujan saat ini pada dasarnya dapat membobol sebuah bendungan yang keberadaanya biasanya untuk meregulasi arus air, demikian juga banjir informasi dapat saja membobol ketahanan orang, menyapu bersih segala yang tak kuat dan menyisakan keporak-porandakan.
Penjejalan diri yang tidak selektif akan informasi akan mengakibatkan pendangkalan tatanan nilai. Arus globalisasi mengidap satu virus dan menyebarkannya pada para pemburu informasi. Virus tersebut bernama “marginalisasi”. Globalisasi memarginalisasikan berbagai keutamaan dan sifat manusia yang tidak mempunyai nilai pasar. Nilai-nilai seperti cinta, kehormatan, kerelaan, pengorbanan, ketanpapamrihan, integritas kepribadian dan solidaritas tidak banyak mendapat perhatian, karena tidak memberi nilai lebih di pasar. Bisa dibayangkan apabila guru kehilangan nilai-nilai itu. Betapa suram dan kaburnya potret guru dewasa ini. Keteladanan macam apa yang akan terpancar darinya!
Kehadiran novel dan film “Laskar Pelangi” mengagetkan dunia pendidikan dan teristimewa dalam koridor tulisan ini dunia keguruan. Dunia keguruan dibuat terperanga dengan tokoh guru dalam novel dan film tersebut. Para guru terperanjat.
Bambang Sudibyo pun lantas merencanakan, pada ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang jatuh pada tanggal 25 November 2008, film Laskar Pelangi yang merupakan garapan Riri Riza dari adaptasi novel dengan judul yang sama karangan Andrea Hirata akan diputar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan akan disaksikan oleh para guru agar semakin terpacu untuk tak kenal putus asa dalam memberikan pendidikan pada muridnya demi kemajuan generasi bangsa.
Satu kalimat yang sebenarnya menjadi kalimat kunci bagi penulis untuk mengelaborasi potret guru dalam novel dan film tersebut dalam alur komparatif yaitu bahwa murid mengingat yang dilakukan gurunya, bukan yang diajarkannya. Dengan demikian, kata kunci yang tepat untuk mengekpresikan potret guru yang selayaknya hadir di era globalisasi yaitu kata keteladanan. Keteladanan yang tidak usang oleh jaman. Guru tidak boleh terperangkap dalam sikap budaya yang tradisionil, yang mempertahankan atau menghidupkan sesuatu dari tradisi hanya karena itu adalah tradisi atau sebaliknya terombang-ambing oleh kemajuan jaman tanpa identitas kepribadian yang jelas.
Seorang guru harus memiliki keteladanan personal dan profesional. Keteladanan personal berarti bahwa guru yang bersangkutan menjadi pribadi yang antusias menghidupi kehidupan dan mengemban tugas pengajaran dengan mengedepankan nilai cinta, kehormatan, kerelaan, pengorbanan, ketanpapamrihan, integritas kepribadian dan solidaritas, sedangkan keteladanan profesional berarti bahwa seorang guru bersikap profesional terhadap ilmu yang dibagikan kepada siswa. Ia harus siap dan berani memperbaharuinya setiap waktu.
Keteladanan personal kiranya tidak mundah dalam penggapaiannya dibandingkan dengan keteladanan profesional. Keteladanan personal mengandaikan adanya otonomi pada guru yang bersangkutan. Otonomi berarti pemberian hukum oleh diri kepada diri sendiri, artinya pembatasan diri dan pengarahan diri. Kehadiran orang lain lantas dialami sebagai suatu tuntutan bagi diri sendiri.
Selain itu, bukankah memang seharusnya begini ini yang harus dikembangkan di dunia pendidikan kita dewasa ini yaitu bahwa ketika banyak orang tua disibukkan dengan tuntutan zaman untuk sibuk dengan pasar persaingan dan oleh karenanya hanya memiliki waktu sedikit untuk anak dan lantas dengan gampangnya melemparkan tanggungjawab pendidikan anaknya pada pendidikan formal, proses belajar mengajar harus dimengerti dalam relasi orang tua – anak, bukan guru – siswa yang jelas-jelas daripadanya masih terpatri relasi yang kurang intens.
Ide gila mungkin, tetapi bukankah fakta globalisasi mewajibkannya para guru bertindak demikian? Apalagi, kualitas pendidikan ditentukan kondisi pengajaran yang demokratis, mengutamakan nilai-nilai luhur, dan keadilan sosial, bukan ide-ide pasar dan individualisme.
Keteladanan personal guru di era globalisasi yang memarjinalisasikan ini seharusnya semakin digarap secara serius agar siswa makin melihat sosok guru sebagai yang patut dikenang dan dibanggakan. Silahkan berlomba melanjutkan petualangan Laskar Pelangi bagian kedua di sekolah masing-masing .Meski begitu tidak mudah bagi saya untuk melupakan semua jasa-jasa para pendidik saya .Dimulai dari TK hingga SMA ini semua guru membuat saya semakin menjadi lebih mengerti artu penting guru . SELAMAT ULANGTAHUN PAHLAWAN TANPA TANDA JASA .
Adsense Menu
Rabu, 25 November 2009
Untuk Guruku
Siapakah yang mau mengenang semua kenangan?
Siapa pula yang lebih berjasa daripada dirinya?
Orang takkan pernah tahu apapun tentang hal ini.
Meski semuanya telah terjadi, tapi kita tidak melihat.
Semuanya telah terbukti, karna kita bisa begini.
Semua cinta dan pengharapan yang dia punya
Hanya dia yang tahu akan segala-galanya.
Meski kita terus meronta untuk pergi dan lepas
Dia selalu ada dan menggengam kita
Hanyalah dirinya yang mengerti kita
Memberikan segalanya yang paling indah
Tak kenal lelah untuk memberikan segalanya
Terima kasih wahai pahlawan tak bernama
Yang akan selalu kukenang setiap waktu
Memberikan kehangatan dalam setiap cinta
Serta menumbuhkan semua akal budi yang kupunya.
Siapa pula yang lebih berjasa daripada dirinya?
Orang takkan pernah tahu apapun tentang hal ini.
Meski semuanya telah terjadi, tapi kita tidak melihat.
Semuanya telah terbukti, karna kita bisa begini.
Semua cinta dan pengharapan yang dia punya
Hanya dia yang tahu akan segala-galanya.
Meski kita terus meronta untuk pergi dan lepas
Dia selalu ada dan menggengam kita
Hanyalah dirinya yang mengerti kita
Memberikan segalanya yang paling indah
Tak kenal lelah untuk memberikan segalanya
Terima kasih wahai pahlawan tak bernama
Yang akan selalu kukenang setiap waktu
Memberikan kehangatan dalam setiap cinta
Serta menumbuhkan semua akal budi yang kupunya.
Jumat, 13 November 2009
Masa gokil bersama Ramses
Pada waktu itu aku memutuskan untuk masuk di Sekolah yang aku idamkan , yaitu SMAN 2 Bojonegoro . Aku sangat bahagia sekali dan masuk di kelas X-1 . Aku duduk dengan teman sebangkuku sejak dari SMP ,yaitu Arci . Aku sangat semangat menjalani kehidupan baru dalam komunitas kelas ini . Banyak teman-teman yang lucu dan aneh . Mereka sangat membuat hari-hari di kelas X-1 menjadi sangat ramai . Pelajaran Bhs.Indonesia menjadi pelajaran favoritku . Siswa-siswi kelas ini sangat kompak dan mengasyikkan . Mereka selalu membuat suasana jadi hidup .
Kemudian aku merasa kaget dan shock ketika mendengar temanku meniggal . Dia adlah Liza Anzila , dia meniggal karena kecelakaan maut di Kalitidu . Kami semua merasa sangat kehilangan . Tapi itu memang terjadi dan kami harus mengikhlaskannya .
Tiba saat pembagian kelas , aku bahagia begitu diumumkan masuk kelas IPA 1 . Saya berharap kelas ini kompak seperti pada waktu kelas X-1 dulu.. Tapi , itu harus menjalani proses . Good Luck .
Kemudian aku merasa kaget dan shock ketika mendengar temanku meniggal . Dia adlah Liza Anzila , dia meniggal karena kecelakaan maut di Kalitidu . Kami semua merasa sangat kehilangan . Tapi itu memang terjadi dan kami harus mengikhlaskannya .
Tiba saat pembagian kelas , aku bahagia begitu diumumkan masuk kelas IPA 1 . Saya berharap kelas ini kompak seperti pada waktu kelas X-1 dulu.. Tapi , itu harus menjalani proses . Good Luck .
Langganan:
Postingan (Atom)

